Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Maret 2012

10 Stasiun Kereta Api Tertua di Indonesia

10. Stasiun Ijo (1880)
Stasiun Ijo (IJ) adalah stasiun kereta api yang terletak di sebelah barat Stasiun Gombong. Secara administratif, stasiun ini berada di Desa Bumiagung, Kecamatan Rowokele, Kabupaten Kebumen. Selain sebagai stasiun persilangan, fungsi lainnya adalah sebagai pengontrol terowongan jalur rel (disebut Terowongan Ijo) yang berada di sisi timur stasiun ini. Pengelolaan stasiun yang terletak pada ketinggian +25 m dpl ini berada di bawah Daerah Operasi 5 Purwokerto. Stasiun yang dibangun pada pertengahan tahun 1880-an ini jarang disinggahi oleh kereta api. Stasiun berperon sisi ini memiliki tiga jalur rel.

9. Stasiun Malang Kotalama (1879)
Stasiun Malang Kotalama (MLK) merupakan stasiun kereta api yang terletak di Kecamatan Sukun, Malang. Stasiun yang berada pada ketinggian +429 m dpl ini berada di Daerah Operasi 8 Surabaya. Stasiun ini merupakan stasiun KA paling selatan yang berada di Kota Malang, dan tertua, dibangun pada tahun 1879. Penambahan nama "Kotalama" dimaksudkan untuk membedakan dengan Stasiun Malang Kotabaru yang dibangun belakangan.
Dari Stasiun Malang Kotalama terdapat percabangan rel yang menuju ke Dipo Pertamina.Tautan

8. Stasiun Surabaya Kota (1878)
Stasiun Surabaya Kota (SB) yang populer dengan nama Stasiun Semut terletak di Bongkaran, Pabean Cantikan, Surabaya. Letaknya sebelah utara Stasiun Surabaya Gubeng dan juga merupakan stasiun tujuan terakhir di kota Surabaya dari jalur kereta api selatan pulau Jawa yang menghubungkan Surabaya dengan Yogyakarta dan Bandung serta Jakarta. Stasiun lain yang juga penting di Surabaya adalah Stasiun Pasar Turi yang menghubungkan Surabaya dengan Semarang. Baru dalam masa kemerdekaan, Jawatan Kereta Api mengadakan layanan kereta api antara Jakarta dan Surabaya Pasar Turi melalui Semarang.
Berdasarkan sejarahnya, Stasiun Surabaya Kota dibangun ketika jalur kereta api Surabaya-Malang dan Pasuruan mulai dirintis sekitar tahun 1870. Tujuannya untuk mengangkut hasil bumi dan perkebunan dari daerah pedalaman Jatim, khususnya dari Malang, ke Pelabuhan Tanjung Perak yang juga mulai dibangun sekitar tahun itu. Gedung ini diresmikan pada tanggal 16 Mei 1878. Dengan meningkatnya penggunaan kereta api, pada tanggal 11 Nopember 1911, bangunan stasiun ini mengalami perluasan hingga ke bentuknya yang sekarang ini.

7. Stasiun Purwosari (1875)
Stasiun Purwosari (PWS) merupakan stasiun kereta api yang terletak di Jl. Slamet Riyadi No. 502, Purwosari, Lawiyan, Surakarta. Stasiun yang terletak pada ketinggian +98 m dpl ini berada di Daerah Operasi 6 Yogyakarta.
Stasiun Purwosari dibangun pada tahun 1875, dan merupakan stasiun tertua di Surakarta. Pembangunannya ditangani oleh NISM. Stasiun Purwosari berada di wilayah Mangkunegaran.

6. Stasiun Solo Balapan (1873)
Stasiun Solo Balapan (kode: SLO, +93m) adalah stasiun induk di Kestalan dan Gilingan, Banjarsari, Surakarta yang menghubungkan Kota Bandung, Jakarta, Surabaya, serta Semarang. Stasiun ini didirikan oleh jaringan kereta api masa kolonial NIS pada abad ke-19 (tepatnya 1873)

5. Stasiun Kedungjati (1873)
Stasiun Kedungjati (KEJ) merupakan stasiun kereta api yang terletak di Kedungjati, Kedungjati, Grobogan. Stasiun yang terletak pada ketinggian +36 m dpl ini berada di Daerah Operasi 4 Semarang. Stasiun Kedungjati diresmikan pada bulan 21 Mei 1873. Arsitektur stasiun ini serupa dengan Stasiun Willem I di Ambarawa, bahkan dulu beroperasi jalur KA dari Kedungjati ke Ambarawa, yang sudah tidak beroperasi pada tahun 1976. Pada tahun 1907, Stasiun Kedungjati yang tadinya dibangun dari kayu diubah ke bata berplester dengan peron berkonstruksi baja dengan atap dari seng setinggi 14,65 cm.

4. Stasiun Ambarawa (1873)
Museum Kereta Api Ambarawa adalah sebuah stasiun kereta api yang sekarang dialihfungsikan menjadi sebuah museum di Ambarawa, Jawa Tengah yang memiliki kelengkapan kereta api yang pernah berjaya pada zamannya. Salah satu kereta api uap dengan lokomotif nomor B 2502 dan B 2503 buatan Maschinenfabriek Esslingen sampai sekarang masih dapat menjalankan aktivitas sebagai kereta api wisata. Kereta api uap bergerigi ini sangat unik dan merupakan salah satu dari tiga yang masih tersisa di dunia. Dua di antaranya ada di Swiss dan India. Selain koleksi-koleksi unik tadi, masih dapat disaksikan berbagai macam jenis lokomotif uap dari seri B, C, D hingga jenis CC yang paling besar (CC 5029, Schweizerische Lokomotiv und Maschinenfabrik) di halaman museum.

3. Stasiun Lempuyangan (1872)
Stasiun Lempuyangan (kode: LPN, +114 m dpl) adalah stasiun kereta api yang terletak di Kota Yogyakarta, berjarak sekitar 1 km di sebelah timur dari stasiun utama di kota ini, yaitu Stasiun Yogyakarta. Stasiun yang didirikan pada tanggal 2 Maret 1872 ini melayani pemberhentian semua KA ekonomi yang melintasi Yogyakarta. Stasiun Lempuyangan beserta dengan rel yang membujur dari barat ke timur merupakan perbatasan antara Kecamatan Gondokusuman di utara dan Danurejan di selatan.

2. Stasiun Semarang Tawang (1868)
Stasiun Semarang Tawang (kode SMT) adalah stasiun induk di Tanjung Mas, Semarang Utara, Semarang yang melayani kereta api eksekutif dan bisnis. Kereta api ekonomi tidak singgah di stasiun ini. Stasiun ini merupakan stasiun kereta api besar tertua di Indonesia setelah Semarang Gudang dan diresmikan pada tanggal 19 Juli 1868 untuk jalur Semarang Tawang ke Tanggung. Jalur ini menggunakan lebar 1435 mm. Pada tahun 1873 jalur ini diperpanjang hingga Stasiun Solo Balapan dan melanjut hingga Stasiun Lempuyangan di Yogyakarta.

1. Stasiun Semarang Gudang / Tambaksari (1864)
Stasiun ini dibangun pada tanggal 16 Juni 1864 yang diresmikan oleh Gubernur Jenderal Baron Sloet van de Beele. Untuk pengoperasian rute ini, pemerintah Belanda menunjuk Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), salah satu markas NIS yang sekarang dikenal sebagai Gedung Lawang Sewu. Dan tepatnya pada 10 Agustus 1867 sebuah kereta meluncur untuk pertama kalinya di stasiun ini.

Perkembangan Sinema Hong Kong dari Masa ke Masa

Era Film Bisu

Sejak awal perkembangan sinema industri film Hong Kong berjalan berdampingan bersama industri film China yang berpusat di Shanghai. Opera Cina yang telah ada sejak ribuan tahun silam menjadi akar bagi medium film. Adapun film yang seringkali dianggap sebagai film Hong Kong pertama adalah dua film komedi pendek berjudul Stealing a Roasted Duckdan Right a Wrong with Earthenware Dish masing-masing pada tahun 1909. Film ini disutradarai Liang Shaobo yang juga seorang aktor dan sutradara Opera. Sementara orang yang berjasa di balik awal perkembangan sinema Hong Kong adalah seorang Amerika, Benjamin Brodsky. Brodsky juga turut andil memproduksi film panjang Hong Kong pertama (berdurasi 2 rol) yakni,Zhuangzi Tests His Wife (1913). Film yang diadaptasi dari pertunjukan opera ini diarahkan oleh Lai Man-wai yang kelak dijuluki sebagai Bapak Sinema Hong Kong.

Perkembangan selanjutnya sulit untuk dilacak karena hanya sedikit saja film yang selamat dari perang dunia pertama. Perang juga menghambat perkembangan film di Hong Kong karena industri film sangat bergantung pada stok (negatif) film dari Jerman. Hingga akhirnya pada tahun 1923, Lai Man-wai bersama dua saudaranya begabung bersama Liang Shaobo untuk mendirikan studio lokal pertama di Hong Kong yakni, Minxin Studio atau juga dikenal China Sun Motion Picture Company. Pada tahun 1925, Lai memproduksi film panjang pertama yakni, Rogue yang juga sukses komersil. Namun demonstrasi buruh yang melanda Hong Kong pada saat itu memaksa Lai memindahkan operasinya ke Shanghai.

Era Film Bicara - Perang Dunia II

Kedatangan teknologi suara serta demonstrasi yang mulai mereda di Hong Kong mengubah industri film sangat drastis. Rakyat Cina mayoritas menggunakan bahasa mandarin namun bahasa kanton lebih lazim digunakan warga Hong Kong. Para produser Cina melihat peluang emas ini dan mulai mendirikan studio di Hong Kong untuk memproduksi film-film berbahasa kanton. Perang antara Cina – Jepang yang pecah di tahun 1937 juga memaksa para pelaku industri film di Shanghai pindah ke Hong Kong. Hong Kong selama beberapa waktu menjadi surga bagi para pelaku industri asal Shanghai. Studio-studio besar seperti, Grandview, Tian Yi, Universal, dan Nanyue didirikan. Film-film bergenre adaptasi opera terbukti adalah yang paling sukses pada dekade ini. Hingga akhirnya pada tahun 1941, Jepang menginvasi Hong Kong dan praktis industri film mati total.

Selama era 30-an ini selain film-film adaptasi opera beberapa genre baru bermunculan yakni, perang (propaganda anti Jepang) serta silat. Ketegangan dengan Jepang membuat film-film perang bertema patriotisme dan nasionalis menjadi tema yang populer sejak pertengahan 30-an, sepertiLifeline (1935), Hand to Hand Combat (1937), dan March of the Partisans(1938). Sementara genre silat (umumnya menggunakan pedang) sebenarnya telah populer sejak akhir dekade lalu terutama di Cina melalui adaptasi novel-novel wuxia yang kala itu sangat populer disajikan berseri di surat kabar. Namun pada awal era 30-an pemerintah Cina melarang produksi film-film silat pedang karena dinilai mengandung unsur kekerasan dan tahyul. Hal ini membuat Hong Kong yang merupakan koloni Inggris menjadi sasaran alternatif. Tercatat film silat berbahasa kanton pertama yang diproduksi di Hong Kong adalah The Adamed Pavilion (1938). Setelah perang berakhir kelak silat (dan kung-fu) adalah salah satu genre paling berpengaruh dalam sejarah industri perfilman Hong-Kong.

Era Pasca Perang Dunia

Sesaat setelah perang dunia selesai, perang sipil yang terjadi di Cina kembali memaksa para pelaku industri film di Shanghai kembali eksodus ke Hong Kong. Hong Kong menjadi pusat industri film terbesar yang memproduksi baik film berbahasa mandarin maupun kanton selama dekade mendatang. Film-film berbahasa mandarin cenderung berbujet besar dengan sasaran penonton yang lebih luas, yakni Cina daratan, Hong Kong, Asia Tenggara, hingga wilayah pecinan di seluruh Eropa dan Amerika. Sementara film-film berbahasa kanton umumnya berbujet rendah dan lebih ditujukan untuk pasar Hong Kong sendiri. Film-film lokal ini banyak didominasi oleh genre adaptasi opera Cina dan kung-fu.

Film-film adaptasi opera Cina dimotori oleh dua aktris top, yakni Yam Kim Fai dan Pak Suet Yin. Film mereka yang paling populer adalah The Purple Hairpin (1959) dan mereka telah bermain dalam lima puluh judul film lebih. Sementara pekembangan mendasar terjadi pada genre silat pedang, yakni munculnya genre kung-fu. Berbeda dengan adaptasi novel wuxia yang berisikan silat menggunakan pedang serta unsur fantasi dan mistik, film-film kung-fu lebih membumi dengan aksi-aksi perkelahian tangan kosong yang realistik. Satu contohnya, pahlawan lokal legendaris, Wong Fei Hung mulai difilmkan dengan seri lebih dari seratus judul film sejak akhir 40-an hingga 70-an. Aktor Kwan Tak Hing berperan sebagai sang master kung-fu dimulai dari The True Story of Wong Fei Hung (1949) hingga Wong Fei Hung Bravely Crushing the Fire Formation (1970). Perubahan juga terjadi pada genre silat pedang yang mulai menggunakan efek visual dan animasi untuk mendukung adegan aksi, seperti tampak pada Buddha’s Palm (1964) dan The Six-Fingered Lord of the Lute (1965).

Pada tahun 1963, pemerintah kolonial (Inggris) mengeluarkan kebijakan mengharuskan setiap film yang diproduksi di Hong Kong disertai teks terjemahan bahasa Inggris. Beberapa pihak menduga hal ini dimaksudkan untuk menghindari tema serta isi film yang berbau propaganda terhadap Inggris. Para produser juga memasukkan teks terjemahan bahasa Cina sehingga baik penonton berbahasa mandarin maupun kanton dapat sama-sama pula menikmati filmnya. Kebijakan ini tidak disadari kelak akan mempopulerkan film-film Hong Kong pada penonton barat. Hingga akhir dekade 60-an, film berbahasa mandarin semakin mendominasi pasar dan pada awal 70-an, film berbahasa kanton hampir sama sekali tidak diproduksi karena kalah bersaing.

Dominasi Shaw Brothers

Pada era 60-an ada dua studio raksasa yang bersaing menguasai pasar, yakni Shaw Brothers (SB) dan Motion Pictures and General Invesment Limited (MP&GI). SB semakin memperkuat dominasinya di tahun 1964, setelah kepala studio MP&GI tewas dalam kecelakaan pesawat terbang. MP&GI lalu berganti nama menjadi Cathay namun tetap saja kalah bersaing dan akhirnya mereka menutup perusahaannya di tahun 1970. Studio SB sendiri berdiri tahun 1957 namun Shaw Bersaudara, Run Run dan Runme Shaw sebelumnya telah berpengalaman di industri film sejak tiga dekade silam. SB semakin memperlihatkan dominasinya setelah mendirikan studio di Central Bay, Hong Kong pada tahun 1961, dengan luas areal 850.000 hektar dan ribuan karyawan. Dengan segala fasilitas, sineas serta para bintangnya, SB mendominasi industri film selama dua dekade ke depan. Hingga pertengahan 70-an, SB tercatat memiliki 230 teater, satu stasiun televisi, dan sekitar 1,7 juta orang per minggunya melihat film-film produksi SB.

Sukses besar pertama SB adalah melalui The Kingdom and the Beauty(1958) karya Li Han Hsiang yang sukses komersil baik domestik maupun internasional. Sukses berlanjut melalui Magnificent Concubine (1962) yang meraih penghargaan di Cannes Film Festival. Bersama SB, Li Han Hsiang kembali sukses besar melalui film musikal Love Eterne (1963) yang hingga kini masih dianggap karya klasik. SB juga mengubah tradisi genre silat pedang yang semula didominasi bintang wanita menjadi film laga murni melalui film-film sukses macam Come Drink with Me (1966) karya King Hu serta The One Armed Swordsman (1967) karya Chang Cheh.

Era Transisi

Sejak akhir dekade lalu film berbahasa kanton mulai menyusut bahkan hingga tahun 1972 jumlahnya sama sekali nol. SB hingga pertengahan dekade ini masih mendominasi melalui film-film kung-fu yang kini mulai digemari penonton barat. Bersama Chang Ceh, SB memproduksi film-film kung-fu sukses seperti Vengeance (1970), The Boxer from Shantung(1972), Five Deadly Venoms (1978) and Crippled Avengers (1979). Sejak awal dekade ini SB mulai mendapat rival yang serius ketika mantan eksekutifnya yakni, Raymond Chow mendirikan studio, Golden Harvest (GH). Dengan kejeliannya, Chow mengontrak beberapa bintang muda yakni Bruce Lee dan Hui Bersaudara yang kelak membawa perubahan besar bagi industri film Hong Kong.

Bruce Lee bisa dibilang adalah satu-satunya aktor superstar legendaris yang menjadi ikon beladiri di muka bumi ini. Sepanjang karirnya Lee hanya memproduksi lima judul film sebelum ia tewas di tahun 1973, yakni The Big Boss (1971), Fist of Fury (1972), The Way of the Dragon (1972), Enter of the Dragon (1973), dan The Game of Death (1979). (The Game of Death adalah film yang belum ia selesaikan produksi tahun 1972). Lee melalui film-filmnya memperkenalkan aksi perkelahian gaya baru yang cepat dengan kharismanya yang khas. Tercatat tiga film pertamanya memecahkan rekor box office domestik. Sementara sukses besar diraih Enter of the Dragon merupakan film produksi patungan Amerika – Hong Kong yang tercatat meraih $90 juta di seluruh dunia.

Pada pertengahan 70-an, memperlihatkan beberapa usaha para pembuat film lokal untuk memproduksi film berbahasa kanton. Satu pemicunya adalah film komedi sukses The House of 72 Tenants (1973) produksi SB yang merupakan satu-satunya film berbahasa kanton yang diproduksi tahun ini. Produksi film berbahasa kanton kembali bergairah terutama setelah film komedi kontemporer Games Gambler’s Play (1974) produksi GH yang dibintangi Hui Bersaudara memecahkan rekor box office domestik. Sukses film ini mengubah arah industri film Hong Kong ke depan. Pada tahun 1974 tercatat hanya 21% film berbahasa kanton diproduksi dan tren ini terus berkembang hingga kelak film berbahasa mandarin sama sekali tidak diproduksi di awal 80-an.

Pada akhir dekade 70-an, GH mengambil-alih kendali pasar menjadi studio nomor satu di Hong Kong. GH kembali melakukan terobosan besar dengan mengontrak aktor muda berbakat sebagai pengganti mendiang Lee, yakni Jacky Chan. Chan melalui Snake in the Eagle Shadow (1978) yang mengkombinasikan aksi kung-fu dengan komedi (kelak menjadi cirinya) terbukti menjadi formula yang sangat diminati penonton. Film-film selanjutnya seperti Drunken Master (1978) serta debut sutradaranya, Fearless Hyena (1979) yang sukses di pasaran semakin meroketkan namanya. Sukses GH serta melemahnya dominasi SB juga membuat para produser dan studio independen semakin menggeliat. SB sendiri masih berproduksi hingga tahun 1987 sebelum akhirnya beralih penuh ke televisi.

Era Emas

Sejak era 80-an, industri film Hong Kong boleh dibilang berubah secara radikal. Para produser dan sineas independen semakin bebas berkreasi dengan ide yang lebih segar. Industri film pada dekade ini mengalami tahap kematangan serta kreatifitas yang belum pernah dicapai era-era sebelumnya. Era gemilang ini berlanjut hingga awal dekade depan ditandai dengan rekor produksi sebanyak 178 judul film pada tahun 1992. Langkah besar dipicu oleh studio baru, Cinema City yang didirikan tahun 1980. Studio ini mengkhususkan diri pada produksi film aksi komedi ber-setting urban dengan film-film sukses macam Chasing Girls (1981) dan Aces Go Places (1982). Parodi ala James Bond, Aces Go Places bersama empat sekuelnya tercatat merupakan seri komedi paling sukses pada dekade ini.

Era ini juga ditandai dengan kemunculan sineas-sineas berbakat yang karirnya dimulai dari televisi, seperti Tsui Hark, Ann Hui, John Woo, Ringo Lam serta lainnya. Tidak seperti Hark dan Woo, sineas wanita Ann Hui memproduksi film-film dengan beragam variasi genre, yakni drama, aksi, horor, fantasi, dan lainnya. Film drama The Boat People (1982) dianggap merupakan salah satu karya terbaiknya. Tsui Hark sukses dengan film-film aksi kung-fu cepat dan energik macam Zu: Warriors from the Magic Mountain (1983), Peking Opera Blues (1986) hingga karya fenomenalnyaOnce upon a Time in China (1991) yang membesarkan nama Jet Li. Sementara Woo dikenal dengan film-film gangster full action seperti A Better Tomorrow (1986) dan The Killer (1989) yang mengangkat nama aktor karismatik Chow Yun-fat. Tsui Hark dan John Woo pada pertengahan dekade mendatang melanjutkan karirnya di Hollywood.

Sang superstar, Jacky Chan setelah sukses dengan film-film kung-fu pada dekade lalu melanjutkan suksesnya dengan film-film aksi berlatar kontemporer, seperti Project A (1983), Police Story (1985) dan Armour of God (1986). Dalam semua filmnya, Chan tidak pernah menggunakan pemain pengganti untuk melakukan adegan berbahaya. Di masa mendatang Chan semakin menanjak popularitasnya bahkan kini menjadi bintang top Hollywood. Kolega Chan, Sammo Hung pada dekade ini sukses dengan film-film aksi-komedi horor, Encounter of the Spooky Kind dan The Dead and the Deadly (1982) yang mempelopori sukses genre “hantu" pada dekade ini. Beberapa bintang lain yang menonjol antara lain aktris Brigitte Lin yang sukses dengan film-film roman silat serta aktor spesialis komedi, Stephen Chow yang meraih sukses awalnya melalui film komedi “judi”, All for the Winner (1990).

Sukses sinema mainstream ternyata juga diikuti film-film nonmainstream (art film) di kancah film internasional. Para sineas seperti Wong Kar-wai, Stanley Kwan, Clara Law, Mabel Cheung menekankan pada tema serta gaya yang tidak lazim dalam film-film Hong Kong kebanyakan. Satu nama yang paling mencuat hanyalah Wong Kar-wai. Wong memulai debutnya melalui As Tears Go By (1988) adalah film garapannya yang paling sukses komersil. Karya-karya terbaiknya berlanjut melalui Days of Being Wild(1991) dan Chungking Express (1994) namun adalah Happy Togethers(1997) yang membuat namanya meroket setelah meraih penghargaan sineas terbaik dalam Cannes Film Festival. Film-film Wong sendiri dikenal memiliki gaya visual yang unik serta kolaborasinya dengan aktor-aktris, Tony Leung dan Maggie Cheung. Dua bintang ini juga terlibat dalam In the Mood for Love (2000) yang kini dianggap merupakan salah satu karya masterpiece Wong.

Era Kejatuhan hingga Kini

Sekitar pertengahan era 90-an merupakan era paling gelap dalam sejarah industri film Hong Kong. Produksi film lokal dari tahun ke tahun terus merosot tajam. Pada tahun 1997 tercatat jumlah produksi film dibawah seratus judul film, terburuk sejak dua dekade silam. Banyak faktor yang melatarbelakangi kejatuhan perfilman Hong Kong, antara lain krisis keuangan yang melanda Asia, banyak sineas serta aktor besar yang hijrah ke Hollywood, kualitas film yang semakin menurun, pembajakan film yang makin marak, dominasi film-film Hollywood, serta paling berpengaruh adalah pemindahtanganan Hong Kong ke Cina dari tangan pemerintah Inggris pada tahun 1997. Janji pemerintah Cina untuk mendukung industri film belum menunjukkan hasil, justru industri malah ditekan melalui sensor film yang ketat. Tahun 2003, Pemerintah lokal mengeluarkan kebijakan yang mengajak bank lokal untuk mendukung industri film namun hasilnya juga masih belum maksimal.

Pada era kelam ini para pelaku industri mencoba menggunakan beberapa formula baru untuk memikat penonton muda datang ke bioskop diantaranya mengkasting bintang-bintang (juga penyayi pop) muda seperti Ekin Cheng dan Nicholas Tse, serta membuat film-film aksi kaya efek visual ala Hollwood. Tren ini tampak dalam film-film seperti Downtown Torpedoes (1997), The Storm Riders (1998),Gen X-Cop (1999), Time and Tide (2000), danLegend of Zu (2001). Sang superstar, Stephen Chow sukses fenomenal dengan dua film komedi uniknya, Shaolin Soccer (2001) dan Kung Fu Hustle (2004). Kung Fu Hustle bahkan sukses meraih nominasi Oscar untuk film berbahasa asing terbaik. Film-film gangster dankriminal juga cukup sukses, seperti Young and Dangerous (1996) dan Infernal Affairs (2002) bersama sekuel-sekuelnya. Infernal Affairs bahkan di-remake Hollywood melalui The Departed (2006) yang meraih Oscar untuk Film Terbaik.

Hingga saat ini pun kondisi perfilman Hong Kong masih jauh jika dibandingkan era emas 80-an. Industri film kini hanya memproduksi sekitar 50-an judul film saja per tahunnya. Sayangnya, di saat industri film semakin merosot justru popularitas film-film Hong Kong di negara barat semakin meningkat. Sineas dan bintang-bintang Hong Kong seperti John Woo, Jacky Chan, Jet Li, serta Chow Yun-fat sudah menjadi bagian dari Hollywood. John Woo bahkan dipercaya memproduksi film-film berbujet besar macam Broken Arrow (1996), Face/Off (1998), Mission Impossible 2(2000), dan Windtalkers (2002) bersama bintang-bintang top macam Tom Cruise, Nicholas Cage, dan John Travolta. Jacky Chan meraih sukses melebihi karirnya di Hong Kong melalui tiga seri aksi-komedi, Rush Hour. Sementara penata laga kawakan, Yuen Woo-ping hingga kini masih menjadi langganan dalam banyak film aksi laga Hollywood. Pengaruh sinema Hong Kong pun juga tampak dalam karya-karya sineas besar seperti Quentin Tarantino, Robert Rodriguez, Wachowsky Bersaudara, hingga Martin Scorcese. Sebagai penutup, perkembangan industri perfilman dunia boleh jadi tidak memiliki warna seperti saat ini jika sinema Hong Kong tidak pernah eksis.





sumber

Senin, 05 Maret 2012

Rupanya Medan Dibangun Orang Karo

Di Medan, tepatnya di Bundaran Petisah ada sebuah monumen bernama Guru Patimpus. Menurut penelitian para ahli sejarah, Guru Patimpus adalah pendiri Kota Medan.

[lihat buku “Riwayat Hamparan Perak” karya Tengku Lukman Sinar, SH, 1971]



Nama lengkapnya Guru Patimpus Sembiring Pelawi (lahir di Aji Jahe, hidup sekitar akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17), Guru Patimpus berasal dari dataran tinggi Karo.
Ia menikah dengan seorang putri Raja Pulo Brayan dan mempunyai dua anak lelaki, masing-masing bernama Kolok dan Kecik.
Setelah menikah, Guru Patimpus Sembiring pelawi dan istrinya membuka kawasan hutan antara Sungai Deli dan Sungai Babura yang kemudian menjadi Kampung Medan.

Nama Medan berasal dari kata "Madan" (Madani: bahasa Arab. Sementara menurut bahasa Melayu, Medan berarti tempat berkumpul). Nama ini dipilih Guru Patimpus setelah memeluk Islam - sebelumnya ia mempunyai kepercayaan Pemena.

Tanggal pendirian Kampung Medan (1 Juli 1590) akhirnya diperingati sebagai hari jadi kota Medan.
Sosok Sang Guru


Guru Patimpus bertubuh kekar, tinggi, gagah, dan berjiwa patriotik seperti seorang panglima.

Ia juga seorang Guru, yang dalam bahasa Karo berarti seorang ahli dalam berbagai ilmu pengetahuan, ilmu obat-obatan, ilmu gaib, dan memiliki kesaktian, namun Ia-nya berjiwa penuh kemanusiaan lemah lembut dalam bertutur kata, mempunyai karakteristik yang simpatik, berwibawa, berjiwa besar dan pemberani.

Hinggalah hari ini tak jelas letak kuburan Guru Patimpus. Ada yang mengatakan, kubur Guru Patimpus di Kecamatan Hamparan Perak Deli Serdang dan kuburannya diketemukan pada bulan Juli 2010 yang lalu , jadi setelah 420 tahun berlalu. Masalah ini masih diteliti.

Ironisnya, keberadaan monumen ini kurang menarik perhatian karena berada di tempat yang biasa-biasa saja. Wah, padahal itu monumen sang "founding father"-nya Medan, ya.

Sumber:
http://intisari-online.com/read/guru-patimpus-pendiri-kota-medan
id.wikipedia.org


Sumber foto:
karosiadi.blogspot.com

Sabtu, 03 Maret 2012

Tucker, Sedan Inovatif Buatan 1948 Yang Dihargai 12,5 Milyar

Sedan Tucker buatan tahun 1948 adalah sebuah mobil canggih yang dikembangkan oleh Preston Tucker dan diproduksi pada tahun 1948. Menurut catatan, hanya 51 Tucker sedan yang pernah dibuat sebelum perusahaan itu ditutup. Desain kendaraan menjadi desain inovatif untuk tahun 1940-an dan dibuat sebagai kenadaraan yang sangat mengutamakan keamanan.
Tucker adalah mobil pertama yang memiliki fitur sabuk pengaman, pengaman kaca depan , dan Cyclops, yang merupakan sistem lampu yang bergeser arah untuk meningkatkan visibilitas mengemudi di malam hari. Pada tahun 1949, Perusahaan Tucker ditertawakan oleh media Amerika dan mengalami serangan balik dari konsumen. Perusahaan ini ditutup di tengah-tengah skandal tuduhan kontroversial sekitar penipuan saham. Pada 2011, Sedan Tucker buatan tahun 1948 ini tampil di acara It’s Worth What? dan dihargai sebesar $ 1.200.000.
Justin Cole adalah orang yang menjalankanbisnis benchmark klasik di Middleton, Wisconsin. Dia mengaku memiliki prototipe yang belum selesai benar - benar dari konversi Tucker. Keaslian kendaraan telah dipertanyakan oleh kolektor mobil klasik dari seluruh dunia. Legenda mengatakan bahwa konversi itu rahasia, prototipe dikenal sebagai "Vera Project," yang dikembangkan oleh Preston Tucker dan nama istrinya. Namun, Alex Tremulis, yang merancang sedan Tucker, telah mengklaim bahwa konversi itu bukan proyek pabrik,baik secara resmi atau tidak resmi. Justin Cole mengacu pada konversi yang diberi nama Tucker # 57 dan mengatakan nomor kendaraan dari pabrik (57) yang tertera pada panel bodi.

Pada tahun 2010, Justin Cole berusaha untuk menjual convertible Tucker yang dilelang di rumah gadai Russo and Steele di Scottsdale. Penawaran untuk kendaraan ini mencapai harga $ 1,4 juta, tapi tidak memenuhi harga cadangan. Mobil itu juga tercantum di ebay pada tahun 2010, di mana penawaran mendekati $ 900.000, tapi sekali lagi tidak memenuhi cadangan. Kendaraan ini masih terdaftar untuk dijual di website benchmark dan memiliki sebuah foto pada galeri besar. Mobil ini memiliki desain Tucker yang jelas dan konversi konversi bersih. Posisi Tucker dari Automobile Club of America adalah bahwa kendaraan ini telah dikonversi setelah perusahaan ini ditutup.




sumber

Rabu, 29 Februari 2012

Bye-Bye Kodak : Sejarah Legendaris Kodak Yang Sekarang Bangkrut

Sejarah datang dan pergi, begitu juga perusahaan baru muncul dan berkembang sementara yang tua harus berjuang atau ditinggalkan konsumen, namun bagaimana bila perusahaan legendaris yang harus tutup toko tersebut adalah sang legenda Kodak? Dulu waktu kecil penulis ingat saat-saat memakai kamera manual dan saat mengganti film yang teringat adalah Kodak. Namun sekarang kita tidak akan menemui merek Kodak lagi karena sekarang Kodak telah dinyatakan bangkrut. Sebagai perpisahan kami mengetngahkan sejarah dari Kodak.


American inventor George Eastman patented photographic film stored in a roll in 1884. Four years later he had perfected the first camera to take advantage of his invention. He founded Kodak in 1892. The meaningless name was chosen because it was impossible to mispronounce and was disimilar to any existing words.


Semua berawal dari George Eastman yang mematenkan penyimpanan film fotografik
dalam sebuah roll atau gulungan. Empat tahun kemudian dia menyempurnakan kamera buatannya
dan mendirikan Kodak tahun 1892. Alasan dia menamakan Kodak karena nama ini tidak
mungkin salah diucapkan dan tidak bermakna apapun
hmmm mungkin anda musti jalan-jalan ke Indonesia Sir mencicipi Swike Kodak ups Swike Kodok kami.


The Kodak Brownie camera was introduced in 1900 and was initially priced at just one dollar in the US. The camera was simple to use and was advertised with the slogan: 'You push the button, we do the rest'.

Kodak Brownie kamera dijual dengan harga $1 pada tahun 1900. Diklaim mudah digunakan sesuai tagline-nya
"Anda tekan tombolnya, kami yang mengurus sisanya"



Circa 1901:  An advertisement for the Kodak Box Brownie camera




Unknown Photographer, Kodak Head Office, Clerkenwell Road, London, c.1902
Markas Kodak yang berada di London, gambar diambil tahun 1902


Photographer Frances Benjamin Johnston stands with with group of children looking at her camera, in a picture titled: 'A Kodak creates a sensation', 1890-1910

Sebuah foto berjudul "A Kodak Create Sensation" diambil tahun 1890-1910


George Eastman (L), founder of the Eastman Kodak Company, is shown with fellow inventor Thomas Edison in this picture dating from the late 1920s


George Eastman pendiri Kodak bersama Thomas Edison, foto diambil tahun 1920-an.


The 8mm film format was introduced by Kodak in 1932. In 1965 they released the Super-8 format, which quickly became hugely popular with amateur film-makers.
Film format 8mm diperkenalkan Kodak tahun 1932. Tahun 1965 Kodak mengeluarkan Super-8 format.
Yang kemudian menjadi sangat populer diantara pembuat film amatir.


In 1935, Kodak introduced Kodachrome film. The film film was manufactured for 74 years, finally being discontinued in 2009. So ingrained in the popular culture was Kodachrome that Paul Simon named a song after it, and Kodachrome Basin State Park in Utah was named after it.


Tahun 1935 Kodak memperkenalkan Kodachrome film, dan terus diproduksi selama 74 tahun, terakhir diproduksi tahun 2009.
Kodachrome menjadi sangat populer bahkan dijadikan nama taman di Utah.



A Kodak advert circa 1958
Iklan Kodak tahun 1958


On February 20, 1962, John Glenn became the first American to orbit the Earth. He was photographed in his Friendship 7 Mercury capsule with a point-and-shoot camera loaded with Kodak 35mm film.
Tanggal 20 Februari 1962, manusia pertama yang mengorbit ke luar angkasa, John Glen memotret bumi
dengan kamera yang dipersenjatai film Kodak 35mm


The assassination of John F Kennedy was captured by Abraham Zapruder using a Bell & Howell camera loaded with 8mm Kodachrome II colour film.


Foto-foto tertembaknya presiden Amerika John F Kenedy diambil oleh fotografer Abraham Zapruder dengan kamera yang
berisi 8mm Kodachrome II film berwarna


Kodak brought out the inexpensive, easy-to-load Instamatic camera in 1963, which became massively popular.

Kamera saku Instamatic diperkenalkan tahun 1963.


The Earth rises on August 23, 1966, as seen from the moon by Lunar Orbiter 1 using a Kodak camera.
Gambar bumi diambil dari Lunar orbiter tanggal 23 Agustus 1966, lagi-lagi memakai kamera Kodak.


20 July 1969: Astronaut Buzz' Aldrin faces the camera as he walks on the Moon during Apollo 11 extra vehicular activity. The plexiglass of his helmet reflects back the scene in front of him, such as the Lunar Module and Astronaut Neil Armstrong, taking his picture.  Armstrong, Apollo 11 commander, took this photograph with a 70mm lunar surface camera loaded with Kodak film.

Neil Amstrong mengambil gambar foto Aldrin memakai 70mm lunar surface camera yang berisi film Kodak


In 1975 Steven Sasson, a Kodak engineer, produced the first working prototype of a digital camera. It was the size of a toaster, weighed eight pounds, had a resolution of 0.01 megapixels, and took 23 seconds to save a black and white image onto a cassette tape...

Tahun 1975 insinyur Kodak bernama Steven Sasson prototipe pertama kamera digital. Seukuran pemanggang roti dengan berat 8 pound,
Kamera ini hanya memiliki resolusi 0,01 megapiksel dan butuh waktu 23 detik untuk mengambil gambar hitam putih yang
kemudian disimpan di dalam tape.


...The crude 100-line digital images could be displayed on a TV by transferring them from the tape using a VCR-sized microcomputer. A patent was issued for the technology, but Kodak didn't take the digital market seriously until 1991, when it introduced  the Kodak DCS-100, which had a 1.3 megapixel sensor and was priced at $13,000.


Gambar yang diambil bisa ditampilkan di tv dengan bantuan perangkat VCR, namun Kodak tidak terlalu serius dengan
kamera digitalnya sampai tahun 1991 ketika Kodak mulai meluncurkan DCS 100 yang memiliki sensor 1.3 megapiksel
dan dihargai $13.000



In 1982, Kodak intoduced the Disc film format. It did not catch on and Kodak stopped manufacturing the film in 1999.

Kodak memperkenalkan Disk film format, namun disk ini tidak terlalu populer.



In 1996, Kodak introduced the DC20, a 0.2 megapixel point and shoot digital camera aimed at the rapidly growing market of home-computer users

Kodak DC 20 diperkenalkan tahun 1996 dengan resolusi 2 megapiksel.

Selasa, 28 Februari 2012

10 Kerajaan Terbesar di Dunia yang Tercatat Sejarah

Suatu kerajaan memperbesar pengaruhnya dengan memperluas wilayahnya. Keadidayaan suatu kerajaan dilihat dari luas wilayah, banyaknya penduduk, ekonomi, berapa lama suatu kerajaan itu berdiri dan juga banyak faktor lain yang mempengaruhi seperti pemerintahannya dan undang-undangya, ataupun juga kebahagiaan penduduknya. Berikut adalah 10 kerajaan terbesar yang pernah ada dalam sejarah:



10. Kerajaan Akkadia (2300 SM–2200 SM)
Kerajaan Akkadia berpusat di kota Akkad (Irak Kuno). Bangsa Akkadia nenek moyang bangsa-bangsa Babilonia dan Assyria. Kerajaan ini berada pada puncak kejayaannya pada abad ke 24 dan 22 sebelum Masehi. Ini dianggap sebagai kerajaan pertama yang ada di bumi. Luas wilayahnya mencapai 0. 8 juta Km persegi.

9. Kerajaan Persia (550 SM–330 SM)
Kerajaan Persia, Iran Kuno, adalah perkembangan dari kerajaan Median, mengatur sebagian besar wilayah arab dan sekitarnya. Median dan Persia juga dikenal sebagai kerajaan Medo-Persia adalah gabungan dari kerajaan-kerajaan sebelum masanya. Dibangun oleh Sirus Yang Agung dan menguasai beberapa benua yaitu Asia, Eropa dan Afrika.

Pada masa puncaknya, kerajaan ini meliputi wilayah Iran, Afganistan, Pakistan, beberapa bagian Asia tengah, Asia Kecil, Thrace (Eropa Tenggara-Balkan), dan Makedonia, sebagian besar wilayah sekitar Laut Hitam, Irak, Arab Utara, Yordania, Palestina, Israel, Lebanon, Syria, Mesir Kuno sampai ke Libya. Dalam sejarah bangsa Barat, kerajaan ini tercatat sebagai musuh dari kerajaan Yunani dalam Perang Greco-Persia, sebagai antisipasi dari budak termasuk di antaranya bangsa yahudi sebagai tahanan bangsa Babilonia dan kemauan untuk penggunaan bahasa yang sama dalam wilayah ini.

Kerajaan Persia ini kemudian diserang oleh Aleksander III dari Makedonia dan sesudah itu kerajaan inipun(Makedonia) runtuh dan tercerai-berai pada 330 SM menjadi Kerajaan Ptolemaic (Mesir) and Kerajaan Seleucid. Kerajaan ini adalah kerajaan terbesr dalam sejarah. Pada masa puncak kejayaannya, wilayahnya melampaui 8. 000. 000 km persegi.

8. Kekaisaran Romawi (27 SM– 476/1453 M)
Tipe pemerintahan kerajaan ini adalah aristokastik dan wilayahnya meliputi Eropa dan Sekitar Mediterania. Kerajaan ini lemah setelah diterpa perang sipil. Beberapa peristiwa perubahan sistem pemerintahan dari Republik ke Kerajaan ditandai dari terpilihnya Julius caesar sebagai diktator yang berkuasa pada 44 SM, dan Perang Actium (2 September 31 SM). Perluasan wilayah Romawi bermula ketika sistem pemerintahanya berbentuk republik, dan mencapai puncak kejayaannya sewaktu berbentuk kekaisaran, tepatnya Kaisar Trajan. Luas wilayahnya pada waktu itu adalah 6. 500. 000 km persegi. Karena kerajaan ini berlangsung sangat lama, pengaruhnya dalam bahasa, agama, arsitektur, filosofi, hukum dan sistem pemerintahanya tetap ada sampai sekarang.

7. Kekalifahan Ummayah (661 M – 750 M)
Sistem Kekalifahan adalah suatu bentuk pemerintahan Islam sebagai bentuk kesatuan politik dan kepemimpinan Muslim di seluruh dunia. Kalifah adalah pemimpin muslim setelah sepeninggal Nabi Muhammad SAW. Kekalifahan Ummayah adalah kalifah kedua dari 4 kalifah dan diatur oleh dinasti Ummayah. Nama ini diambil dari Umayya ibn Abd Shams, moyang dari Kalifah Ummayah yang pertama. Meskipun keluarga Ummayah berasal dari Mekah, mereka memilih Damaskus sebagai ibukotanya. Kekalifahan Ummayah ini adalah bangsa Arab-Islam terbesar dalam sejarah. Luas wilayahnya mencapai 5.000.000 km2.

6. Dinasti Qing (1890–1912)
Dinasti Qing adalah dinasti terakhir di China. Bermula dari Dinasti Ming dan berlanjut dalam bentuk Republik Rakyat China. Dinasti ini dibentuk oleh klan Manchuria Aisin Gioro (sekarang timur laut china). Berawal dari tahun 1644 dan memperluas wilayahnya di sekitar china membentuk Kekaisaran Qing yang Agung. Dinasti ini menyatukan china pada 1683. Dinasti Qing kemudian jatuh setelah Revolusi Xinhai, ketika Empress Dowager Longyu melepaskan tahtanya sebagai kaisar, Puyi pada 12 februari 1912. Wilayahnya mencapai 14. 700. 000 km2.

5. Kekaisaran Rusia (1721–1917)
Kekaisaran ini berawal dari 1721 dan berakhir pada Revolusi Rusia 1917. Kekaisaran ini adalah kelanjutan dari Tsar Rusia dan menjadi Uni Soviet. Pada 1866, kekaisaran ini memperluas wilayahnya dari Eropa timur ke Asia dan Afrika Utara. Pada awal abad 19, Rusia adalah negara terbesar di dunia. Wilayahnya mencakup Benua Artika di utara sampai Laut Hitam di selatan, Laut Baltik di barat sampai ke Samudra Pasifik di sebelah timur.

4. Kekaisaran Mongolia (1206–1368)
Kekaisaran Mongolia berawal dari abad 13 sampai abad 14. Wilayahnya membentang dari Eropa timur ke Asia. Kekaisaran ini adalah gabungan dari bangsa Mongol dan Turki setelah Genghis Khan diproklamirkan sebagai pemimpinnya pada 1206. Pada masa puncak kejayaanya, wilayahnya membentang dari Sungai Danube di Eropa sampai ke laut jepang. dan dari Benua Artika sampai ke Kamboja. Luas wilayahnya mencapai 24. 000. 000 km2. Pada 1294, kekaisaran mongol pecah menjadi 4 bagian.

3. Kerajaan Mogul (1526–1858)
Kerajaan Mogul adalah kerajaan Islam yang mengatur sebagian besar wilayah India dan berawal pada 1526. Kerajaan ini mengatur sebagian besar Asia Selatan pada akhir abad 17 dan awal abad 18 dan berakhir pada pertengahan abad 19. Kerajaan Mogul adalah keturunan dari Timurid dari Turkistan pada tahun 1700 an, kerajaan ini mencakup seluruh daratan India. Wilayahnya pada waktu itu 4.000.000 km2. Kerajaan ini bermula dari kepemimpinan Jalaluddin Mohammad Akbar atau Akbar yang Agung dan berakhir pada 1707 setelah kematian Kaisar Aurangzeb meskipun masih berlangsung sampai 150 tahun kemudian.

2. Kerajaan Inggris
Kerajaan inggris terdiri dari domini, koloni, protektorat dan mandat dan semua wilayah yang diatur oleh kerajaan Inggris. Sampai tahun 1922 Kerajaan Inggris memiliki 450 juta jiwa dan itu merupakan 1/4 penduduk dunia waktu itu. Wilayahnya seluas 33. 700. 000 km2. dan mempunyai kekuatan militer paling besar dalam sejarah.

1. Kekaisaran Ottoman (Turki 1299–1923)
Adalah kerajaan Islam yang berlangsung dari 1 November 1299 sampai 24 Juli 1924. Pada masa kejayaannya, kekaisaran ini meliputi 3 benua, mengatur sebagian besar Asia Barat, Timur dan Tenggara Eropa, daerah pegunungan Kaukasus dan Afrika Utara. Kekaisaran ini berlangsung paling lama yaitu selama 7 abad. Mereka juga toleran terhadap umat Kristen dan Yahudi.
sumber

Jumat, 23 Desember 2011

7 Negara Yang Pernah Merasakan Agresi Militer Indonesia

Siapa bilang Indonesia adalah negara budak yang hanya bisa dijajah dan tak bisa menggempur negara lain . Ternyata Indonesia pernah melakukan invasi ke sejumlah negara. Ini beneran invasi perang dengan tentara lho , bukan penyerbuan TKI ke negeri asing . Ya udah langsung aja deh, ini nih 7 Negara Yang Pernah Diinvasi Indonesia.

1. Timor Leste

Operasi Seroja adalah sandi untuk invasi Indonesia ke Timor Timur yang dimulai pada tanggal 7 Desember 1975. Pihak Indonesia menyerbu Timor Timur karena adanya desakan Amerika Serikat dan Australia yang menginginkan agar Fretilin yang berpaham komunisme tidak berkuasa di Timor Timur. Selain itu, serbuan Indonesia ke Timor Timur juga karena adanya kehendak dari sebagian rakyat Timor Timur yang ingin bersatu dengan Indonesia atas alasan etnik dan sejarah.
Angkatan Darat Indonesia mulai menyebrangi perbatasan dekat Atambua tanggal 17 Desember 1975 yang menandai awal Operasi Seroja. Sebelumnya, pesawat-pesawat Angkatan Udara RI sudah kerap menyatroni wilayah Timor Timur dan artileri Indonesia sudah sering menyapu wilayah Timor Timur. Kontak langsung pasukan Infantri dengan Fretilin pertama kali terjadi di Suai, 27 Desember 1975. Pertempuran terdahsyat terjadi di Baucau pada 18-29 September 1976. Walaupun TNI telah berhasil memasuki Dili pada awal Februari 1976, namun banyak pertempuran-pertempuran kecil maupun besar yang terjadi di seluruh pelosok Timor Timur antara Fretilin melawan pasukan TNI. Dalam pertempuran terakhir di Lospalos 1978, Fretilin mengalami kekalahan telak dan 3.000 pasukannya menyerah setelah dikepung oleh TNI berhari-hari. Operasi Seroja berakhir sepenuhnya pada tahun 1978 dengan hasil kekalahan Fretilin dan pengintegrasian Timor Timur ke dalam wilayah NKRI.

Selama operasi ini berlangsung, arus pengungsian warga Timor Timur ke wilayah Indonesia mencapai angka 100.000 orang. Korban berjatuhan dari pihak militer dan sipil. Warga sipil banyak digunakan sebagai tameng hidup oleh Fretilin sehingga korban yang berjatuhan dari sipil pun cukup banyak. Pihak Indonesia juga dituding sering melakukan pembantaian pada anggota Fretilin yang tertangkap selama Operasi Seroja berlangsung.

2. Papua Barat

Operasi Trikora, juga disebut Pembebasan Irian Barat, adalah konflik 2 tahun yang dilancarkan Indonesia untuk menggabungkan wilayah Papua bagian barat. Pada tanggal 19 Desember 1961, Soekarno (Presiden Indonesia) mengumumkan pelaksanaan Trikora di Alun-alun Utara Yogyakarta. Soekarno juga membentuk Komando Mandala. Mayor Jenderal Soeharto diangkat sebagai panglima. Tugas komando ini adalah merencanakan, mempersiapkan, dan menyelenggarakan operasi militer untuk menggabungkan Papua bagian barat dengan Indonesia.
Pertempuran Laut Aru pecah pada tanggal 15 Januari 1962, ketika 3 kapal milik Indonesia yaitu KRI Macan Kumbang, KRI Macan Tutul yang membawa Komodor Yos Sudarso, dan KRI Harimau yang dinaiki Kolonel Sudomo, Kolonel Mursyid, dan Kapten Tondomulyo, berpatroli pada posisi 4°49' LS dan 135°02' BT. Menjelang pukul 21:00 WIT, Kolonel Mursyid melihat tanda di radar bahwa di depan lintasan 3 kapal itu, terdapat 2 kapal di sebelah kanan dan sebelah kiri. Tanda itu tidak bergerak, dimana berarti kapal itu sedang berhenti. Ketika 3 KRI melanjutkan laju mereka, tiba-tiba suara pesawat jenis Neptune yang sedang mendekat terdengar dan menghujani KRI itu dengan bom dan peluru yang tergantung pada parasut. Kapal Belanda menembakan tembakan peringatan yang jatuh di dekat KRI Harimau.

Kolonel Sudomo memerintahkan untuk memberikan tembakan balasan, namun tidak mengenai sasaran. Akhirnya, Yos Sudarso memerintahkan untuk mundur, namun kendali KRI Macan Tutul macet, sehingga kapal itu terus membelok ke kanan. Kapal Belanda mengira itu merupakan manuver berputar untuk menyerang, sehingga kapal itu langsung menembaki KRI Macan Tutul. Komodor Yos Sudarso gugur pada pertempuran ini setelah menyerukan pesan terakhirnya yang terkenal, "Kobarkan semangat pertempuran".

Pasukan Indonesia di bawah pimpinan Mayjen Soeharto melakukan operasi infiltrasi udara dengan menerjunkan penerbang menembus radar Belanda. Mereka diterjunkan di daerah pedalaman Papua bagian barat. Penerjunan tersebut menggunakan pesawat angkut Indonesia, namun operasi ini hanya mengandalkan faktor pendadakan, sehingga operasi ini dilakukan pada malam hari. TNI Angkatan Laut kemudian mempersiapkan Operasi Jayawijaya yang merupakan operasi amfibi terbesar dalam sejarah operasi militer Indonesia. Lebih dari 100 kapal perang dan 16.000 prajurit disiapkan dalam operasi tersebut.

Karena kekhawatiran bahwa pihak komunis akan mengambil keuntungan dalam konfik ini, Amerika Serikat mendesak Belanda untuk berunding dengan Indonesia. Karena usaha ini, tercapailah persetujuan New York pada tanggal 15 Agustus 1962. Pemerintah Australia yang awalnya mendukung kemerdekaan Papua, juga mengubah pendiriannya, dan mendukung penggabungan dengan Indonesia atas desakan AS.


3. Malaysia

Pada 20 Januari 1963, Menteri Luar Negeri Indonesia Soebandrio mengumumkan bahwa Indonesia mengambil sikap bermusuhan terhadap Malaysia. Pada 12 April, sukarelawan Indonesia (sepertinya pasukan militer tidak resmi) mulai memasuki Sarawak dan Sabah untuk menyebar propaganda dan melaksanakan penyerangan dan sabotase. Tanggal 3 Mei 1963 di sebuah rapat raksasa yang digelar di Jakarta, Presiden Sukarno mengumumkan perintah Dwi Komando Rakyat (Dwikora) yang isinya: Pertinggi ketahanan revolusi Indonesia, Bantu perjuangan revolusioner rakyat Malaya, Singapura, Sarawak dan Sabah, untuk menghancurkan Malaysia

Di bulan Agustus, enam belas agen bersenjata Indonesia ditangkap di Johor. Aktivitas Angkatan Bersenjata Indonesia di perbatasan juga meningkat. Tentera Laut DiRaja Malaysia mengerahkan pasukannya untuk mempertahankan Malaysia. Tentera Malaysia hanya sedikit saja yang diturunkan dan harus bergantung pada pos perbatasan dan pengawasan unit komando. Misi utama mereka adalah untuk mencegah masuknya pasukan Indonesia ke Malaysia. Sebagian besar pihak yang terlibat konflik senjata dengan Indonesia adalah Inggris dan Australia, terutama pasukan khusus mereka yaitu Special Air Service(SAS). Tercatat sekitar 2000 pasukan Indonesia tewas dan 200 pasukan Inggris/Australia (SAS) juga tewas setelah bertempur di belantara kalimantan (Majalah Angkasa Edisi 2006).

Pada 17 Agustus pasukan terjun payung mendarat di pantai barat daya Johor dan mencoba membentuk pasukan gerilya. Pada 2 September 1964 pasukan terjun payung didaratkan di Labis, Johor. Pada 29 Oktober, 52 tentara mendarat di Pontian di perbatasan Johor-Malaka dan membunuh pasukan Resimen Askar Melayu DiRaja dan Selandia Baru dan menumpas juga Pasukan Gerak Umum Kepolisian Kerajaan Malaysia di Batu 20, Muar, Johor.

Ketika PBB menerima Malaysia sebagai anggota tidak tetap. Sukarno menarik Indonesia dari PBB pada tanggal 20 Januari 1965. Pada pertengahan 1965, Indonesia mulai menggunakan pasukan resminya. Pada 28 Juni, mereka menyeberangi perbatasan masuk ke timur Pulau Sebatik dekat Tawau, Sabah dan berhadapan dengan Resimen Askar Melayu Di Raja dan Kepolisian North Borneo Armed Constabulary.

Pada 1 Juli 1965, militer Indonesia yang berkekuatan kurang lebih 5000 orang melabrak pangkalan Angkatan Laut Malaysia di Semporna. Serangan dan pengepungan terus dilakukan hingga 8 September namun gagal. Peristiwa ini dikenal dengan "Pengepungan 68 Hari" oleh warga Malaysia. Menjelang akhir 1965, Jendral Soeharto memegang kekuasaan di Indonesia setelah berlangsungnya G30S. Oleh karena konflik domestik ini, keinginan Indonesia untuk meneruskan perang dengan Malaysia menjadi berkurang dan peperangan pun mereda.

Pada 28 Mei 1966 di sebuah konferensi di Bangkok, Kerajaan Malaysia dan pemerintah Indonesia mengumumkan penyelesaian konflik. Kekerasan berakhir bulan Juni, dan perjanjian perdamaian ditandatangani pada 11 Agustus dan diresmikan dua hari kemudian.

4. Malaka

Sejak tahun 1509, Pati Unus, raja Demak, sudah merancang rencana untuk menguasai Malaka. Saat itu Malaka berada di bawah kekuasaan Kesultanan Malaka. Dengan kata lain, perlu dicatat bahwa serangan Demak ke Malaka jelas bukanlah sebuah serangan anti-kekuasaan asing, tetapi sebuah invasi imperialis. Tahun 1511, Alfonso D'Alburquerque, Laksamana armada Portugis, mendahului Pati Unus dengan menaklukkan Malaka. Sultan Malaka Mahmud Syah melarikan diri ke Bintan.

Pati Unus sangat mengerti bahwa kekuatan utama Portugis adalah pada armada lautnya. Portugis memiliki kapal yang kuat, bahkan lebih kuat dibandingkan dengan kapal Majapahit. Selain itu, Portugis sudah menggunakan meriam yang dipasang di masing - masing kapal di mana pada waktu itu meriam adalah senjata pamungkas yang tidak bisa ditandingi oleh senjata apapun.

Oleh karena itu, langkah pertama Pati Unus adalah menghidupkan kembali kekuatan armada Majapahit yang tertidur lama pada saat masa - masa perebutan kekuasaan. Kapal - kapal baru tersebut juga dilengkapi dengan Cetbang, yaitu meriam api, di mana kapal dan cetbang juga merupakan kekuatan andalan Armada Majapahit. Pusat produksi kapal-kapal ini adalah Semarang, gerbang masuk Demak, dengan bantuan orang-orang Tionghoa lokal.

Selanjutnya Pati Unus menghimpun kekuatan - kekuatan nusantara untuk membentuk armada gabungan dengan satu tujuan, mengusir Portugis dari Malaka. Ia juga meminta bantuan orang-orang Jawa yang ada di Malaya untuk jadi agen dalam di Malaka. Tetapi ternyata, ketika Pati Unus terlanjur berangkat ke Malaka,orang-orang Jawa ini terlanjur dipergoki Portugis dan melarikan diri ke Cirebon. Pati Unus pun bertempur tanpa bantuan mata-mata dan agen dalam - kapal-kapalnya dengan mudah diremuk meriam-meriam yang ditodongkan ke laut di Benteng Portugis di Malaka.

5. Singapura

Usman lahir di Purbalingga, Banyumas, Jawa Tengah (1943). Harun lahir di P Bawean, Surabaya (1947). Kedua-duanya nama samaran untuk tugas sebagai sukarelawan menyusup ke Singapura, melakukan tugas sabotase dalam rangka Dwikora (Dwi Komando Rakyat). Pada waktu itu RI terlibat konfrontasi dengan Malaysia dan Singapura. Usman dan Harun tergabung dalam tim sabotir. Pada 8 Maret 1965 malam, berbekal 12,5 kg bahan peledak mereka bertolak dengan perahu karet dari P Sambu. Mereka dapat menentukan sendiri sasaran yang dikehendaki.
Maka setelah melakukan serangkaian pengintaian, pada suatu tengah malam terjadi ledakan di sebuah bangunan Mc Donald di Orchard Road. Tiga orang tewas dan sejumlah lainnya luka.

Dalam upaya kembali ke pangkalan, Usman bersama Harun pisah dengan Gani.
Baru pada 13 Maret pagi, setelah berhasil merampas sebuah motorboat, Usman dan Harun dalam perjalanan pulang. Tapi boat macet di perjalanan. Mereka takdapat menghindar dari sergapan patroli.

Pada 4 Oktober , Usman dan Harun diadili. Dijatuhi hukuman mati pada 20 Oktober 1965. Banding diajukan pada 6 Juni 1966, ditolak 5 Oktober 1966. Diajukan lagi pada 17 Februari 1967 ke Privy Council di London, tapi tetap ditolak (21 Mei 1968). Kemudian permohonan grasi diajukan kepada Presiden Singapura Jusuf bin Ishak (1 Juni 1968).

Sementara itu pada 4 Mei 1968, Menlu Adam Malik melalui Menlu Singapura membantu upaya KBRI memperoleh pengampunan atau setidak-tidaknya memperingan hukuman kedua sukarelawan.

Pada 10 Oktober 1968, Menlu Singapura menyatakan bahwa permohonan grasi ditolak. Pada 10 Oktober 1968, Atase AL Letkol Gani Djemat SH yang dipanggil ke Jakarta dan kembali ke Singapura membawa surat Presiden Soeharto untuk Presiden dan PM Singapura. Tapi gagal menyerahkan surat-surat itu langsung kepada yang bersangkutan.
Presiden Singapura sedang sakit. PM Lee Kwan Yew tak dapat dihubungi karena sibuk mempersiapkan keberangkatan ke Tokyo.

Sumber: http://id.shvoong.com/law-and-politi...#ixzz1Tq5OdZsC

6. Indochina (Kamboja dan Vietnam)



7. Siam (Thailand)
Dari catatan sejarah dan bukti arkeologi, pada abad ke-9 Sriwijaya telah melakukan invasi dan kolonisasi di hampir seluruh kerajaan-kerajaan Asia Tenggara, antara lain: Sumatera, Jawa, Semenanjung Malaya, Thailand, Kamboja, Vietnam, dan Filipina.

Dominasi atas Selat Malaka dan Selat Sunda, menjadikan Sriwijaya sebagai pengendali rute perdagangan rempah dan perdagangan lokal yang mengenakan biaya atas setiap kapal yang lewat. Sriwijaya mengakumulasi kekayaannya sebagai pelabuhan dan gudang perdagangan yang melayani pasar Tiongkok, dan India.

Sumber